Monday, October 1, 2012

Menjaga Laut Berarti Menjaga Dunia


Oleh : Syahroni (Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB)


Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari 17.504 pulau besar dan kecil (Depdagri, 2006), garis pantai sepanjang 81.000 km dan letaknya yang berada di daerah ekuator membuat Indonesia kaya dengan keanekaragaman sumber daya hayati sehingga dikenal sebagai megabiodiversity. Menurut Rokhmin Dahuri (2006) bahwa nilai keanekaragaman hayati laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan nilainya setara dengan APBN Indonesia. Artinya betapa berharganya aset tersebut untuk menjadi sumber kekayaan yang membawa kepada kesejahteraan bangsa.

Sejarah negeri ini juga telah menunjukkan bahwa kejayaan bangsa Indonesia sangat besar dipengaruhi oleh kelautan khususnya dibidang pelayaran. perdagangan, peperangan dan kegiatan antar pulau di masa kerajaan dahulu sangat erat kaitanya dengan bidang kelautan. Dapat dibayangkan pada masa dulu kekuasaan Majapahit sampai ke Filipina tidak mungkin dicapai dengan menempuh jalur darat, kemampuan tentara Inggris dan Belanda dalam menguasai peperangan juga melalui jalur laut. Sehingga dikenal istilah dalam bahasa sansekerta “Jalesviva Jayamahe" yang artinya “di laut kita Jaya”. 

Semua hal diatas hanya akan menjadi sejarah masa lalu yang hanya bisa dikenang dan diceritakan kepada anak cucu kita di masa yang akan datang, bahkan mungkin sebelum kita sempat bercerita kepada generasi kita dunia ini sudah musnah akibat bencana besar yang timbul akibat keburukan tingkah laku kita terhadap lingkungan. Salah satu kebiasaan buruk yang terjadi di masyarakat yang sangat berbahaya bagi kelangsungan sumber daya kelautan dan perikanan di dunia yaini adalah “perilaku membuang sampah sembarangan” serta didukung dengan penanganan sampah yang buruk di daratan. 

Sampai saat ini laut masih menjadi tempat pembuangan akhir terbesar di dunia khususnya di daerah pasifik. Menurut lembaga penelitian kelautan Amerika, saat ini di Samudta Pasifik terdapat tumpukan sampah yang luasnya telah mencapai dua kali benua amerika dan dalam setiap 1 kilometer ditemukan 101.000 jenis sampah yang berasal dari daratan. Indonesia menjadi salah satu negara yang menyumbang begitu besar dengan 690.000 jenis sampah per kilometer luas lautannya. Menurut National Marine Science Centre (NMSC) Australia, dalam setiap tahun terdapat 6,4 juta ton sampah masuk kelautan, dan untuk menangani kerusakan lingkungan laut akibat sampah dibutuhkan 1.262 miliar dolar belar Amerika setiap tahunnya. Dapat dibayangkan betapa besarnya biaya yang secara tidak langsung harus kita keluarkan akibat kerusakan lingkungan. Bukan uang yang kita keluarkan untuk hal tersebut, akan tetapi pada hakikatnya kita rugi karena ada banyak sumber daya yang tidak dapat kita ambil karena hilang terus menerus akibat kerusakan seperti berkurangnya spesies ikan di lautan, rusaknya terumbu karang, tidak nyamannya tempat wisata pantai.

Langkah kedepan
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bencana yang telah menimpa umat manusia disebabkan kerena ulah mansia sendiri. Dahulu masyarakat dunia belum menyadari betapa pentingnya keberadaan hutan di dunia dan isu kerusakan hutan yang teradi muncul sangat kuat dewasa ini di seluruh dunia terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Dari hal tersebut terdapat kesamaan hal yaitu kelestarian alam laut yang dari waktu ke waktu semakin terancam karena ulah manusia salah satu diantaranya adalah sampah. Sehingga perlu adanya langkah yang harus segera diambil oleh setiap negara dan dalam hal ini khususnya Indonesia. Adapun langkah-langkah yang dapat dambil oleh Indonesia dalam menangani masalah serius ini adalah :

1. Melakukan penanganan secara tuntas sampah-sampah di darat agar tidak sampai ke laut
Sampah yang ada di darat adalah hasil dari aktivitas masyarakat yang perlu ditangani dengan serius sebelum akhirnya mengalir kelaut dan mencemarinya. Upaya ini dapat dengan cara memasang perangkap sampah dari darat di muara sungai disamping dilakukannya penyuluhan kepada masyarakat akan akibat dari membuang sampah sembarangan. Selain itu perlu dilengkapi dengan sarana yang mencukupi dan juga petugas pelaksana yang terdidikdan disiplin. 

2. Mengembangkan bahan-bahan yang ramah lngkungan sebagai bahan pengemas produk-produk industri
Jenis sampah yang ada sebagian besar adalah berasal dari plastik yang membutuhkan waktu jutaan tahun untuk terurai sehingga untuk keamanaan lingkungan dimasa yang akan datang pengembangan teknologi bioplastik yang dapat terurai dengan mudah sangat diharapkan. Maka sampah plastik seperti plastik kemasan makanan, kantong belanja dan jenis lainnya dapat terurai dengan cepat sehingga aman bagi lingkungan. Kasus yang terjadi di beberapa daerah adalah matinya organisme yang memakan plastik seperti penyu karena mengira plastik tersebut adalah ubur-ubur. Akibat lain juga terjadinya penutupan sinar matahari akibat tertumpukanya sampah yang berakibat penurunan produktivitas primer pada wilayah tersebut. 

3. Menerapkan peraturan dalam menangani kebiasaan buruk masyarakat dalam membuang sampah
Peraturan dalam menjaga perilaku masyarakat agar disiplin dalam membuang sampah sangat penting, selain itu penekanan dan kesungguhan dari penegak hukum untuk melaksanakannya karena kedalanya adalah karena tidak semua orang paham akan bahaya sampah. Oleh arena itu perlu dilakukannya sosialisasi agar setiap masyarakat Indonesia dapat memahaminya. Sebagai contoh di Australia setiap orang mengganti ban mobil maka harus membayar biaya penanganan sampah yang ia buang berupa ban bekas sebesar 25 dolar Amerika. Negara tersebut telah berhasil menerapkan program kebersihan dan menjadikan lingkungan mereka bebas dari sampah.

Beberapa hal di atas hanyalah alternatif solusi untuk mengatasi masalah sampah yang ada di dunia khususnya Indonesia. Pada intinya kepedulian manusia akan lingkungan menjadi faktor yang penting dalam menjaga kelangsungan manusia di bumi. Oleh karena itu dalam memperingati hari kelautan se-dunia mari kita jadikan sebagai semangat untuk menjaga laut kita, karena menjaga laut berarti menjaga bumi

Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments:

Post a Comment